Featured Post Today
print this page
Latest Post

Sejarah Kelam Raja Abdul Aziz

Sebagaimana pendiri wahabi Muhammad bin Abdul Wahhab dipenuhi dengan sejarah kelam dan berdarahnya, demikian pula para pengekornya terutama raja Abdul Aziz di dalam mendirikan kerajaan Arab Saudi yang dipimpinnya tak luput dari pertumpahan darah kaum muslimin yang dibunuhinya bahkan setelah dibunuh mereka tega merampok hasil peperangannya melawan kaum muslimin yang lemah tak berdaya, mereka mengganggap bereprang layaknya berperang melawan kaum kafir.

Mungkin sejarah ini jika ditulis oleh pihak selain mereka, maka mereka dengan segera menggapnya cerita ini hanyalah bualan dan kedustaan saja. Tapi bagaimana jika ternyata yang menceritakan sejarah kelam mereka adalah dari kalangan sejarawan mereka sendiri bahkan disakiskan dengan mata kepalanya sendiri. Berikut sekilas dari sejarah kelam yang dilakukan Abdul Aziz yang terangkum dalam kitab Unwanul Majd  fi Tarikh an-Najd karya Utsman  bin Bisyr seorang sejarawan Saudi urutan ketiga dari lima sejarawan Saudi yang paling diandalkan ulama wahabi :

وفيها سار عبد العزيز رحمه الله بالجيوش المنصورة إلى الإحساء وأناخ بالموضع المعروف بالمطريفي في الإحساء وقتل منهم رجالا كثيرا نحو السبعين رجلاً وأخذ أموالاً كثيرة، ثم أغار على المبرز فقتل من أهلها رجالا
“ Dan pada tahun 1176 H, Abdul Aziz Rahimahullah bersama bala tentaranya ke negeri Ihsa dan berhenti di daerah Mathrifi di Ihsa, kemudian ia membunuh tujuh puluh orang di sana dan merampas harta yang banyak, kemudian berlanjut lagi ke daerah Mabraz dan juga membunuh banyak orang di sana “. (Unwan al-Majd fii Tarikh an-Najd, Utsman bin Bisyr : 1/43)

=====================

-          Membunuh kaum muslimin yang masih bersyahadat Laa ilaaha illallah tanpa rasa takut

-          Merampas harta kaum muslimin yang mereka bunuh layaknya merampas harta kaum kafir

-          Maha besar Allah yang membeberkan sejarah kelam mereka melalui tangan-tangan pengikut mereka sendiri tanpa mereka sadari.


(Shofiyyah An-Nuuriyyah)
0 comments

Kontradiksi Syaikh Utsaimin Dalam Memahami Bid'ah

Salah satu tokoh Wahhabi Saudi adalah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Seperti halnya tokoh-tokoh Wahhabi yang lain semisal Ibn Baz dan al-Albani , al-Utsaimin berupaya dengan sekuat tenaga dan mengerahkan seluruh energi untuk meyakinkan para pengikutnya, para pengagumnya, dan para pemujanya bahwa semua bid'ah itu pasti `sesat', dan yang namanya `sesat' pasti masuk `neraka'. Hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan pernyataan al-Utsaimin yang begitu muluk-muluk dalam risalah kecil tentang bid'ah yang ditulisnya berjudul al-Ibda' fi Kamal Syar'i wa Khathar al-Ibtida' (kreasi tentang kesempurnaan syara' dan bahayanya bid'ah), berikut ini:

قَوْلُهُ (كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ) كُلِّيَّةٌ، عَامَّةٌ، شَامِلَةٌ، مُسَوَّرَةٌ بِأَقْوَى أَدَوَاتِ الشُّمُوْلِ وَالْعُمُوْمِ (كُلٌّ)، أَفَبَعْدَ هَذِهِ الْكُلِّيَّةِ يَصِحُّ أَنْ نُقَسِّمَ الْبِدْعَةَ إِلَى أَقْسَامٍ ثَلاَثَةٍ، أَوْ إِلَى أَقْسَامٍ خَمْسَةٍ؟ أَبَدًا هَذَا لاَ يَصِحُّ. (محمد بن صالح العثيمين، الإِبْدَاع في كَمَال الشَّرْع وخَطَرِ الابتداع، ص/13).
"Hadits semua bid'ah adalah sesat, bersifat global, umum, menyeluruh (tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti menyeluruh dan umum yang paling kuat yaitu kata-kata (seluruh)". Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini, kita dibenarkan membagi bid'ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian? Selamanya, ini tidak akan pernah benar." (Muhammad bin Shalih Utsaimin dalam al-Ibda' fi Kamal al-Syar'i wa Khathar al-Ibtida', hal. 13).
Lihatlah Pernyataan al-Utsaimin tersebut di atas memberikan pengertian bahwa hadits semua bid'ah adalah sesat, bersifat general, umum dan menyeluruh terhadap seluruh jenis bid'ah, tanpa terkecuali, sehingga tidak ada satu pun bid'ah yang boleh disebut bid'ah hasanah, apalagi disebut bid'ah mandubah yang mendatangkan pahala bagi pelakunya. Oleh karena itu, membagi bid'ah pada tiga bagian atau lima bagian, menurutnya tidak akan pernah dibenarkan, dan bid'ah tetap selalu 'sesat' dan masuk `neraka'. Begitulah menurut dia dan diikuti oleh sejumlah pengikut Salafy Wahhabi di dunia.

Tetapi anehnya tesis ini sulit dipertahankan secara ilmiah oleh Al-`Utsaimin sendiri. Disamping tesis tersebut hanya sebagai bukti kesempitan cara berfikirnya dan menyalahi metodologi berfikir para sahabat, ulama salaf dan ahli hadits, tesis di atas justru bertentangan dengan pernyataan al-Utsaimin sendiri di bagian lain dalam bukunya, yang membagi bid'ah menjadi beberapa bagian sesuai dengan pendapat mayoritas ulama. Misalnya ia menyatakan:

الأصل في أمور الدنيا الحل، فما ابتدع منها، فهو حلال، إلا أن يدل الدليل على تحريمه. لكن أمور الدين الأصل فيها الحظر، فما ابتدع منها، فهو حرام بدعة، إلا بدليل من الكتاب والسنة على مشروعيته.
"Hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan dunia adalah halal. Jadi, bid'ah dalam urusan-urusan dunia itu halal, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal perbuatan Baru dalam urusan-urusan agama adalah dilarang. Jadi, berbuat bid'ah dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid'ah, kecuali ada dalil dari al-Kitab dan Sunnah yang menunjukkan keberlakuannva." (Al-Utsaimin, Syarh al-Aqidah al Wasithiyyah, hal. 639-640).
Tentu saja pemyataan Mbah Utsaimin ini membatalkan tesis sebelumnya, bahwa semua bid'ah secara keseluruhan itu sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka. Namun kemudian, di sini al-Utsaimin membatalkannya dengan menyatakan bahwa bid'ah dalam urusan dunia, halal semua, kecuali ada dalil yang melarangnya. Bid'ah dalam urusan agama haram dan bid'ah semua, kecuali ada dalil yang membenarkannya. Dengan klasifikasi bid'ah menjadi dua (versi al-Utsaimin), yaitu bid'ah dalam hal dunia dan bid'ah dalam hal agama, dan memberi pengecualian dalam masing-masing bagian, menjadi bukti bahwa al-Utsaimin tidak konsisten dengan pemyataan awalnya (tidak ada pembagian dalam bid'ah). Selain itu, pembagian bid'ah menjadi dua versi ini, tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggung­jawabkan, dan hanya retorika Wahhabisme saja dalam mencari mangsa untuk menjadi pengikutnya.

Dalam bagian lain, al-Utsaimin juga menyatakan:
ومن القواعد المقررة أن الوسائل لها أحكام المقاصد فوسائل المشروع مشروعة ووسائل غير المشروع غير مشروعة بل وسائل المحرم حرام، فالمدارس وتصنيف العلم وتأليف الكتب وإن كان بدعة لم يوجد في عهد النبي صلى الله عليه وسلّم على هذا الوجه إلا أنه ليس مقصداً بل هو وسيلة والوسائل لها أحكام المقاصد. ولهذا لو بنى شخص مدرسة لتعليم علم محرم كان البناء حراماً ولو بنى مدرسة لتعليم علم شرعي كان البناء مشروعاً
"Di antara kaedah yang ditetapkan adalah bahwa perantara itu mengikuti hukum tujuannya. Jadi perantara tujuan yang disyariatkan, juga disyariatkan. Perantara tujuan yang tidak disyariatkan, juga tidak disyariatkan. Bahkan perantara tujuan yang diharamkan juga diharamkan. Karena itu, pembangunan rnadrasah-rnadrasah, penyusunan ilmu pengetahuan dan kitab-kitab, meskipun bid'ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah dalam bentuk seperti ini, namun ia bukan tujuan, melainkan hanya perantara, sedangkan hukum perantara mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu, bila seseorang rnembangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan, rnaka membangunnya dihukumi haram. Bila ia membangun madrasah untuk rnengajarkan syariat, maka membangunnya disyariatkan." (Al-Utsaimin, al-Ibda' fi Kamal Syar'i wa Khathar al-Ibtida', hal. 18-1 9).
Dalam pernyataan ini Al-Utsaimin juga membatalkan tesis yang diambil sebelumnya. Pada awalnya dia mengatakan, bahwa semua bid'ah secara keseluruhan, tanpa terkecuali adalah sesat, dan sesat tempatnya di neraka, dan tidak akan pemah benar membagi bid'ah menjadi tiga apalagi menjadi lima. Kini, al-Utsaimin telah menyatakan, bahwa membangun madrasah, menyusun ilmu dan mengarang kitab itu bid'ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah namun hal ini bid'ah yang belum tentu sesat, belum tentu ke neraka, bahkan hukum bid'ah dalam soal ini terbagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan hukum tujuannya.

Begitulah, al-'Utsaimin yang sangat dikagumi oleh Salafy Wahhabi akhirnya jatuh ke dalam lumpur tanaqudh (kontradiksi). Pada awalnya dia mengeluarkan tesis bahwa semua bid'ah itu sesat, tanpa terkecuali. Namun kemudian, dalam buku yang sama, ia tidak dapat mengelak dari realita yang ada, sehingga membagi bid'ah menjadi beberapa bagian sebagaimana pandangan mayoritas ulama.

Para ulama menyatakan: المبطل متناقض , لأن الله تعلى قال : ولو كان من عند غير الله لو جدوا فيه اختلفا كثيرا
"Orang yang memiliki ajaran batil pasti kontradiksi dengan dirinya sendiri. Karena Allah SWT telah berfirman: "Kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. al-Nisa' 82).

Andaikan, para tokoh Wahhabi selain Al-Utsaimin seperti Ibn Baz dan al‑Albani dan Arrabi' yang dikagumi oleh Wahhabiyun mau rendah hati dan mengikuti para ulama besar seperti al-Imam al-Syafi'i, al-Khaththabi, Ibn Abdilbarr, al-Nawawi, Izzuddin bin Abdissalam, al-Hafizh Ibn Hajar dan lain-lain, tentu mereka tidak akan jatuh dalam lumpur tanaqudh dan tahrif.

Demikianlah kontradiksi dari pendapat Syaikh pujaan wahhabi, Al-Utsaimin, mengenai bid’ah yang semoga menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Syaikh Al-Utsaimin dan Syaikh-syaikh wahhabiyyun lainnya.

Wallahu a'lam bishshowab.

3 comments

Jawaban Albani Terhadap Orang Yang Suka Menuduh Syirik


Diantara ciri khas ajaran wahabi adalah selalu melihat amalan orang lain dengan penuh prasangka dengan tuduhan syirik, bid'ah, sesat, hingga kafir. Mereka dengan mudah menghukuminya dengan prasangka-prasangka buruk seperti itu. Orang tahlilan dianggap bid'ah, ziarah kubur syirik, tawassul syirik, maulidan bid'ah, menyelenggarakan haul syirik, dan lain sebagainya. 

Mari kita lihat hadits Sahih Nabi SAW berikut yang juga telah disahihkan syaikh Albani yang isinya justeru membungkam mulut wahabi yang gemar menuduh syirik: 


إن أخوف ما أخاف على أمتي رجل حمل القرآن حتى رئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام غيره إلى ما شاء الله فنزعه وراء ظهره وحمل السلاح على جاره ورماه بالشرك، قيل يارسول الله من أولى بالشرك الرامي أم المرمي قال الرامي


وقد صحح الحديث الشيخ الألباني في الصحيحة فراجع كلامه فيها

" Sesungguhnya sesuatu yang aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca al-Qur'an, sehingga setelah ia kelihatan indah karena al-Qur'an dan menjadi penolong agama Islam, ia merubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Ia melepaskan dirinya dari al-Qur'an, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan telah syirik.” Aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh?” Beliau menjawab: “Justru orang yang menuduh syirik [yang lebih berhak menyandang kesyirikan ".(Sahih Ibnu Hibban 1/282).

Setidaknya, jawaban Albani tersebut telah membungkam mulut besar Wahabi yang gemar menuduh syirik terhadap amalan yang dianggapnya tidak sesuai.


0 comments

Standar Ganda Saudi, Wahabi, dan Amerika

Saudi, Wahabi dan Barat; ketiga variable ini memiliki keterkaitan yang saling menguntungkan untuk mendukung kepentingannya masing-masing. Saudi yang memiliki kepentingan penguasaan politik dan ekonomi membutuhkan legitimasi agama dari Wahabi, pada satu sisi. Dan pada saat yang tepat Wahabi menawarkan diri bekerjasama dengan Saudi untuk mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan yang sesuai dengan fahamnya yang puritan dan konservatif (Salah satu konservatisme ini diceritakan pada buku Ad Hussain ‘The Islamist’, terpanggangnya  hidup- hidup 15 siswi sebuah sekolah di Saudi saat kebakaran melahap asrama putri tersebut. Gara-gara mutawwi’een (polisi agama) melarang para anggota pemadam kebakaran masuk ke asrama, karena beralasan di dalam sana para siswi tidak memakai jilbab, hijab, dan semacamnya. Ad Hussain, the Islamist, (New York, Penguin Book 2007), 245).
 
Sedangkan Wahabi memiliki kepentingan terhadap kebutuhan modal kepada Saudi untuk melanggengkan ajarannya, pada satu sisi. Pada sisi lain, Wahabi sadar bahwa Saudi tidak dapat ditangguhkan untuk melakukan penjaminan pada kelompoknya, sehingga Wahabi kembali bekerjasama dengan Barat untuk meminta jaminan perlindungan terhadap penyebaran paham fundamentalismenya. Wahabi menggunakan dua strategi dalam jalinan kerjasama dengan Barat yaitu menginginkan keuntungan dan jaminan perlindungan masyarakat Amerika terhadap kelompoknya, walaupun pada saat yang sama Wahabi menolak dan memberangus landasan kebebasan beragama Amerika Serikat (Stephen sulaiman Schwartz, the two face of Islam; Saudi fundamentalism and its role in terrorism, yang diterjemahkan oleh Hodri Ariev dengan judul dua wajah Islam; moderatisme dan fundamentalisme dalam wacana global, 330).

Bagi Saudi, paham purifikasi yang melekat pada Wahabi ini bisa menjadi pondasi untuk melegalkan politiknya (Lihat : Noah Salomon, the salafi critique of Islamism; doctrine, difference and the problem of islmic political action in contemporary sudan, dalam Roel Meijer (ed), Global Salafism; Islam’s new religious movement, (London, Hurst & Company 2009), 151). Pada sisi yang lain, Saudi membutuhkan kerjasama dengan Barat untuk meneguhkan dan melebarkan sayap ekonominya. Dan begitupun Amerika Serikat juga memiliki motif ekspansi perekonomian di Arab Saudi. Dan oleh karena itu, Amerika Serikat bekerjasama dengan Saudi untuk kepentingan ekonomi dan politik. Mereka bekerjasama untuk melanggengkan kesatuan kekuatan politik dan ekonomi, maka terciptalah ARAMCO dan pangkalan Militer Amerika di wilayah negaranya.

Legitimasi para ulama Wahabi memberikan ‘stabilitas’ politik yang dipaksakan buat Saudi, dan secara eksternal telah mendistorsi logika berfikir umat Islam dunia yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam sejarah pemikiran Islam, Wahabi sebenarnya tidak menempati posisi penting, bahkan secara intelektual bisa dikatakan dengan jenis kelompok yang marjinal. Wahabi menjadi signifikan karena dakwah extreem-nya dalam sisi gelap sejarah Islam, bukan karena pemikirannya, tapi karena kekuasaan politik Ibn Saud dan penerusnya. Di samping itu, para peneliti dan sejarawan Islam memandang Wahabi sebagai fenomena khas yang terpisah dari aliran pemikiran maupun gerakan Islam lainnya. Meskipun Wahabi dan Saudi berusaha menghapus sejarah lama dengan menghancurkan situs-situs Islam dan mencipta sejarah baru menurut versinya, namun sejarah dan track recordnya yang suram tetap menjadi suara terbanyak dari ummat Islam itu sendiri maupum pemerhati barat.

Ketiga variabel ini semuanya menggunakan teknik standard ganda.
0 comments

Kitab Rekayasa Wahabi Yang Mengatasnamakan Imam Nawawi

Dakwah Salafy Wahaby walaupun kita sering bertanya, Kenapa Marah Di Sebut Wahaby ? yang sulit di terima oleh dunia Islam, kecuali hanya sebagian kecil orang awam, sehingga menghalalkan segala cara demi sebuah faham yang mereka anggap benar, dakwahnya yang lebih pantas di sebut dengan fitnah terhadap Islam, Al-Quran, Hadits dan para Ulama Islam. 
 
Karena setiap sisi syari’at Islam yang tidak sepaham dengan pemahaman mereka selalu ada cerita dusta dan fitnah terhadap Ulama, baik Salaf atau Khalaf, ketidaksiapan mereka dalam menyikapi perbedaan atau dengan kata yang lebih jelas WAHABY / SALAFY TIDAK MAMPU MENERIMA PERBEDAAN dan tidak cukup nya pendukung dakwah mereka, hingga memaksa mereka memutarbalikkan fakta dengan cerita dusta terhadap para pakar Ulama Islam separti Imam Mazhab empat, Syaikh Abdul Qadir Al-Jiilani, Ibnu Katsir, Imam Baihaqqi, Imam Asy’ari, Imam Nawawi, Ibnu Hajar al-Ashqalani, Shalahuddin al-Ayyubi dan masih banyak lagi, semoga Allah selalu menjaga Para Ulama Islam dari bermacam fitnah Wahaby. 

Adapun yang ingin kami sampaikan di sini adalah cerita dusta terhadap Imam Nawawi yang bernama lengkap Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marri asy-Syafi’i al-Asy’ari an-Nawawi, ada dua fitnah Wahabi terhadap Imam Nawawi yang saling bertolak-belakang, yaitu tuduhan sesat dan tuduhan taubat. Dan sudah banyak yang  Membongkar Kitab Rekayasa Wahabi Yang Dinisbahkan Kepada Imam Nawawi Pengarang Kitab Riyadhus Shalihin ini. 

1. Tuduhan sesat yang masyhur adalah mengenai kitab adzkar, dan tuduhan yang dilakukan oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab nya Liqa’ al-Bab al-Maftuh bahwa Imam Nawawi bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tuduhan ini memang sudah lumrah, karena setiap yang tidak sama dengan mereka pasti dituduh sesat, lebih lagi karena Imam Nawawi adalah seorang Ulama Sufi dan beraqidah Asy’ari, fitnah ini telah dilemparkan oleh Wahabi terhadap semua Ulama Sufi dan beraqidah Asy’ari atau Maturidi, semua di cap sebagai ahlu bid’ah sesat, semoga Allah menolong semua penolong Islam. 

2. Tuduhan bahwa Imam Nawawi telah bertaubat dari aqidah Asy’ari ke aqidah Salafy Wahaby, bukan Salafy murni, karena tidak ada takfiri antara Salaf dan Khalaf, fitnah ini bersumber dari sebuah rekayasa pembenci Imam Nawawi lewat lembaran-lembaran kitab rekayasa yang dinisbahkan kepada Imam Nawawi yang katanya “beliau sempat bertaubat dari aqidah Asy’ari dan kembali ke aqidah Salaf kira-kira dua bulan sebelum beliau wafat, dan sempat menulis kitab tentang aqidah Ulama Salaf serta mencela Asya’irah. 

Akan tetapi kitabnya hilang dan yang tersisa hanya satu Juzuk/Jilid yang membahas tentang -KALAMULLAH HURUF dan SUARA-” sehingga jilid itu disebut “جزء الحروف والأصوات” -JUZK HURUF WAL ASHWAT- atau -JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT- atau جزء فيه ذكر اعتقاد السلف في الحروف و الأصوات -JUZK FI HI DZIKRU I’TIQAD SALAF FIL HURUF WAL ASHWAT- dan kitab rekayasa itu di tahqik oleh pentahkiq Wahabi yaitu Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati, agar penyamaran itu sempurna dan terkesan benar adanya, serta menumbuhkan keragu-raguan pada pengikut Ahlu Sunnah Waljama’ah yang beraqidah Asy’ari, Na’uzubillah min dzalik. 

SEKILAS TENTANG KITAB REKAYASA [JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT] YANG DINISBAHKAN KEPADA IMAM NAWAWI
Kitab rekayasa tersebut dibuat seolah-olah Imam Nawawi menulis ringkasan [ikhtishar] dari dua kitab berbeda yakni kitab GHAYATUL MARAM FI MAS-ALATIL KALAM ” غاية المرام في مسألة الكلام” katanya itu kitab Syaikh Fakhruddin Abu Abbas Ahmad Ibn Hasan Ibn Utsman al-Armawi asy-Syafi’i, dan dari kitabnya Imam Nawawi sendiri yakni kitab at-TIBYAN FI ADABI HAMLATIL QURAN “التبيان في آداب حملة القرآن” sehinggah kitab kebohongan itu terdiri dari dua bagian, dan insyaallah akan kami jelaskan nanti mana yang dari kitab GHAYATUL MARAM dan mana yang dari at-TIBYAN. 

Kitab kebohongan tersebut terdiri dari Muqaddimah dan 18 [delapan belas] pasal, yaitu:
  1. PASAL: Tentang huruf dan apakah ia qadim atau hadits.
  2. PASAL: Tentang Kalam Allah.
  3. PASAL: Tentang itsbat harf bagi Allah ta’ala.
  4. PASAL: Tentang itsbat suara bagi Allah ta’ala.
  5. PASAL: Tentang bahwa qiraah itu dibacakan dan bahwa kitabah itu dituliskan.
  6. PASAL: Tentang bahwa Kalam Allah itu didengarkan.
  7. PASAL: Tentang Hadits-hadits yang menguatkan bahwa Kalam Allah itu didengarkan.
  8. PASAL: Tentang wajib hormati Al-Quran.
  9. PASAL: Tentang haram Tafsir Al-Quran tanpa ilmu.
  10. PASAL: Tentang haram ragu dan jidal pada Al-Quran dengan cara yang tidak benar.
  11. PASAL: Tentang tidak dilarang kafir mendengar Al-Quran dan dilarang menyentuhnya.
  12. PASAL: Tentang menulis Al-Quran pada bejana lalu disirami air dan diberikan ke orang sakit.
  13. PASAL: Tentang menghias dinding dan pintu dengan Al-Quran.
  14. PASAL: Tentang sunnah menulis mushaf.
  15. PASAL: Tentang tidak boleh menulis Al-Quran dengan najis.
  16. PASAL: Tentang wajib menjaga mushaf dan menghormatinya.
  17. PASAL: Tentang haram terhadap orang berhadats menyentuh mushaf dan membawanya.
  18. PASAL: Tentang melarang anak-anak dan orang gila membawa mushaf.
Dari dua bagian kitab rekayasa ini disebutkan bahwa bagian pertama yaitu tujuh Pasal awal mulai dari [PASAL: Tentang huruf dan apakah ia qadim atau hadits.] sampai akhir [PASAL: Tentang Hadits-hadits yang menguatkan bahwa Kalam Allah itu didengarkan.] itu diringkas dari kitab GHAYATUL MARAM FI MAS-ALATIL KALAM karya Syaikh Fakhruddin Abu Abbas Ahmad Ibn Hasan Ibn Utsman al-Armawi asy-Syafi’i, dan bagian kedua yaitu sebelas Pasal selanjutnya mulai dari [PASAL: Tentang wajib hormati Al-Quran.] sampai akhir [PASAL: Tentang melarang anak-anak dan orang gila membawa mushaf.] itu ringkasan dari kitab Imam Nawawi sendiri yakni kitab at-TIBYAN FI ADABI HAMLATIL QURAN. 

Skenario yang hampir bisa dibilang sempurna, mencampurkan yang haq dengan yang batil, agar yang batil sekilas terlihat haq, tapi Allah akan selalu menolong para penolong Agama, cepat atau lambat rekayasa, fitnah dan cerita dusta itu pasti akan nampak juga pada waktunya.Insyaallah 

ALASAN MENOLAK DINISBAHKAN KITAB REKAYASA [JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT] TERSEBUT KEPADA IMAM NAWAWI
1. Bahwa Syaikh Fakhruddin Abu Abbas Ahmad Ibn Hasan Ibn Utsman al-Armawi asy-Syafi’i ini orang tidak dikenal [OTK] bahkan tidak pernah ada sama sekali dalam jajaran Ulama Syafi’iyyah dalam kitab mana pun, bahkan lagi pentahqik kitab itu pun tidak kenal dengan Abu Abbas al-Armawi ini, tidak mungkin orang yang dipuji setinggi langit oleh Imam Nawawi dalam kitab itu tidak tercatat dalam sejarah, apalagi dalam peristiwa sebesar ini [seandainya itu benar adanya], tapi jangankan kehidupannya, kuburnya pun tidak ada, benar-benar ini tokoh fiktif belaka.
2. Bahwa kitab rekayasa GHAYATUL MARAM FI MAS-ALATIL KALAM karya Abu Abbas al-Armawi tersebut tidak pernah ada sama sekali, karena orang nya memang tidak pernah ada, bagaimana mungkin Imam Nawawi meringkas kitab yang tidak pernah ada itu.
3. Bahwa Imam Nawawi tidak punya guru yang bernama Abu Abbas al-Armawi, bahkan dalam kitab rekayasa itu sendiri, pentahqik lupa menambah Abu Abbas al-Armawi dalam jajaran guru Imam Nawawi.
4. Bahwa aqidah Ulama salaf bukan seperti tersebut dalam kitab rekayasa itu, tapi Tafwidh ma’at Tanzih atau Takwil Ijmali tanpa Takyif, Tasybih dan Ta’thil, itu Manhaj Taymiyyin yang belum ada masa Imam Nawawi.
5. Bahwa dalam kitab Biografi Imam Nawawi tidak pernah ada sejarah bahwa Imam Nawawi pernah menulis kitab rekayasa tersebut yakni [JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT].
6. Bahwa tidak disebutkan siapa penemu kitab rekayasa itu dan kapan ditemukannya, tidak ada murid atau keluarga atau Ulama semasa Imam Nawawi yang tau adanya kitab itu, dan baru ketahuan setelah ratusan/ribuan tahun kemudian saat kitab itu ada ditangan pentahqik Wahabi yakni Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati, dan kemungkinan besar inilah biang fitnah ini.
7. Bahwa banyak pembesar Wahabi juga tidak percaya dengan keberadaan kitab rekayasa itu, hingga Imam Nawawi di cap sesat karena beliau seorang Sufi beraqidah Asy’ari.
8. Bahwa Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati selaku pentahqik sekaligus “penemu” kitab rekayasa  itu adalah pembenci Imam Nawawi dan anti Sufi juga anti Asy’ari.
9. Bahwa Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati adalah orang pikun hingga nampak kedustaannya yaitu salah menetapkan tanggal dalam kitab rekayasa itu, dalam Muqaddimah ia sebutkan bahwa kitab itu selesai ditulis oleh Imam Nawawi pada Kamis 3 Rabiul Akhir 676 H [في الخميس الثالث من شهر ربيع الآخر سنة 676 هـ] tapi pada akhir kitab ia sebutkan kitab itu selesai pada Kamis 3 Rabiul Awwal 676 H [الخميس الثالث من شهر ربيع الأول سنة ست وسبعين وستمائة.] 
10. Bahwa Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati juga melakukan kesalahan ketika mentahqik mengubah ibarat dari dasar nya (فرغنا منه صبيحة الخميس) menjadi (فرغنا من نسخه الخميس).
Sudah cukup alasan untuk tidak menerima penisbahan kitab rekayasa tersebut kepada Imam Nawawi, tapi lebih layak kitab itu dinisbahkan kepada Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati selaku pentahqik sekaligus “penemu” kitab itu. 

Semua fitnah Wahabi yang timbul di setiap masa pasti telah dijawab oleh Ulama pada masa itu, karena memang sudah menjadi kewajiban atas Ulama untuk terus menjaga kemurnian Islam, dan kemuliaan Ulama Ahlu Sunnah Waljama’ah, apalagi yang dicela oleh Wahabi adalah Ulama sekelas Imam Nawawi, seorang pendekar Madzhab Syafi’i, kasus dan modus seperti ini bukan pertama kali terjadi tapi sudah terjadi sebelumnya dan akan terjadi setelahnya juga. 

Semoga Allah selalu menjaga kemurnian Islam dan para pejuang Islam dari fitnah berkedok Islam.
Hasbunallah wa ni’mal wakil.
0 comments

Ikut Majelis Rasulullah, Pemuda Wahabi pun Tobat

Assalamualaikum wr wb.
Ini adalah kisah tetangga ana, dan ana sdh minta izin untuk di publikasikan afwan tapi namanya ana tidak sebut. Di bulan ramadhan 1431 H , tetangga ana yang anti maulid dan dll, ia habis pulang kuliah buru buru kerumah ana.

Dan berkata: “fiz, itu dijalan banyak baleho2 MR buat apa sih tuh ??”

ana jawab: “oh.. buat cara malam nuzulul qur’an dan ahlul badr di monas bos”

tetangga ana:” ahh.. buang2 duit aja sih guru lho tuh, gak bener, bid’ah terus di buat mendingan juga buat fakir miskin uangnya”

ana: “bos jgn menghina begitu, ente ikut dah besok ya bagimana acara disana ?? ente lihat dulu bagaimana suasana disana ?? terus gimana menurut ente?”

Tetangga ana pun berfikir dan berapa menit langsung jawab: “oke dah ana  ikut tapi ente yg ongkosin ya??”

Ana: “iya ana yg bawa motor ana ongkosin bensin  ^_^ ”

Setelah beberapa hari pas mau dekat acara, ia pun berkata ke ana: “ ana cuman mau liat aja ya dan gak mau apa yg ente dan guru ente lakuin entar ana dosa lagi bidah aja”, lalu ana jawab: “ iya bos terserah antum”, ana pun sambil tersenyum.

Kemudian malam hari setelah salat terawih ana dan tetangga ana pun berangkat ke acara di monas tersebut bersama sama teman2 yang lain, dalam perjalan dia berkata: ”waduh banyak juga fis yang ikut ni ada yg bawa anak, ada yg bawa mobil waduhh hebat gara2 cuman acara seperti ini banyak yang ikut HEBAT ANA SALUT”, ana pun di dalam hati seneng dan tersenyum mendengar perkataannya. Setelah sampai di tempat acara ia merasa bingung dan kaget melihat banyak sekali orang yang datang dan berkata”waduh ini pada mau demo ya fis?” Ana:”bukan bos ini mau ikuti acara tersebut dan memang seperti ini insya allah setiap tahun terus bertambah oranya” . dan iapun cuman melihat kanan kiri dan mengangguk2 kepalanya.

Saat acara berlangsung ia pun terdiam saja saat mahalul qiyam,ana lihat ia merasa seperti orang sedih, kenapa? walllohu allam. Lalu saat Habib Munzir Almusawa beri tausyiah pun ana lihat sepintas  ia menyimak dengan rasa ingin tahunya. Lalu ana menunduk dan tersenyum. Setelah acara berakhir ia masih menangis atas zikir tadi, lalu ana bertanya kepada dia,

Ana:”kenapa antum ??”

Tetangga:” ana merasa sdh byk dosa fis, saat pembacaan salawat2 tadi ana merasa ketenangan jiwa yg tenang banget fis, terus saat Habib Munzir Almusawa tausyiah adem hati ana, lalu pas zikir ana merasakan tenang dan dosa2 pun sudah hilang rasanya fis bener YA ALLAH HATI INI ADEM BANGET FIS, POKOKNYA FIS ANA IKUT KALAU ANTUM NGAJI DAH HATI INI RASANYA TENANG BANGET ANA SUKA SALAWAT2NYA, BSK BSK AJA ANA LAGI FIS YA..”

Ana: “iya iya tenang aja ana ajak kok , makanya jgn menghina dulu bos ya , EH MALAH ANTUM KESENENGAN”

Tetangga:” iya iya ana mohon maaf dah fis selama ini dah banyak hina antum ikut ini itu ini itu, POKOKNYA ANA SEKARANG JADI DEPAN KALAU NGAJI BIAR KHUSUS APA YNG DISAMPAIKAN MA HABIB OKE FIS?”

Ana:”oke oke ^_^”

Dalam perjalanan pulang ia pun sering melatunkan qosidah yng tadi di bacakan di acara tersebut dan ia megang hp ana yg disitu ia tirukan bacaan qosidah tersebut, dalam hati ana pun seneng dan gembira melihat ia sekarang berubah mengikuti apa ajaran orang tuanya, karena ia berubah saat sdh kuliah , mudah Allah SWT terus menjaga hati dan imannya mengikuti ajaran Sayidina Muhammad SAW..amin ya robbi…

Sekian kisah ana alami semoga bermanfaat…amin

Wassalamu alaikum wr wb.

(oleh Muhammad Hafidz Maqmun pada 30 November 2010 jam 14:58)
0 comments

Syaikh Ibn Sa'di, Ulama Wahabi Yang Tobat Ikut Ngalap Berkah

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin –ulama Wahhabi kontemporer yang sangat populer-, mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahhabi. Meskipun Syaikh Ibnu Sa’di, termasuk ulama Wahhabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda Abuya al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjid al-Haram bersama halqah pengajiannya. Sementara di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk. Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah shalat dan thawaf yang mereka lakukan. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung yang menggelantung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan airnya dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut, dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.
.
Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah SWT. Akhirnya para polisi pamong praja itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu, “Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik.”
.
Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera berhamburan menuju halqah al-Imam al-Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dan menanyakan prihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk melakukannya. Akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi baduwi tersebut. Bahkan mereka berkata kepada para polisi baduwi itu, “Kami tidak akan memperhatikan teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”
.
Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi baduwi itu pun segera mendatangi halqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka. Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit menghampiri halqah Sayyid ‘Alwi dan duduk di sebelahnya. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu.
.
Dengan penuh sopan dan tatakrama layaknya seorang ulama, Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi: “Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?”
Sayyid ‘Alwi menjawab: “Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”
Syaikh Ibnu Sa’di berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Sayyid ‘Alwi menjawab: “Karena Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50:9).
Allah SWT juga berfirman mengenai Ka’bah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبَارَكًا

“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3:96).
Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”
.
Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi: “Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.” Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di: “Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan orang dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang yang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu, lalu ambillah air di situ di depan para polisi baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.” Akhirnya mendengar saran Sayyidn ‘Alwi tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tingkah laku Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi baduwi itu pun pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu. Semoga Allah SWT merahmati Sayyidina al-Imam ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani. Amin.
.
Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu. —
0 comments
 
Terimakasih Templatenya : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Dakwah Wahabiyah - All Rights Reserved
Supported by Sarkub dan Densus 99 Anti Teror Aqidah
Artikel dapat dicopy dan disebarluaskan dengan mencamtumkan sumber linknya